Ada sebuah pembicaraan antara Aku dan Aldo diakhir September 2010. Isinya tentang rencana perayaan ulang tahun Aldo ke-25 pada 5 November lalu. Aku mengusulkan acara dirayakan di Gunung Gede. Gunung Gede sendiri memiliki ketinggian 2958 Mdpl. Ia terletak di Taman Nasional Gede-Pangrango, Sukabumi. Aldo setuju dengan usulku. Kawan-kawan dari Jurnal seperti Bayu (Nae Pinggang), Ipul (Bot**), Dodo, Afwan (Waka), dan Hendy (Pencot) menyatakan ikut. Aku juga mengajak Mas Latief, kenalanku.
Pendakian kali itu melalui jalur Cibodas, Cianjur. Hal ini aku putuskan karena ada beberapa teman yang selama ini belum pernah mendaki. Jalur Cibodas memang dikenal lebih landai ketimbang jalur Gunung Putri. Ia merupakan salah satu jalur pendakian ke Gunung Gede dan Pangrango.
BERGAYA. Nae, Aldo, dan Afwan berpose di Pos Pemeriksaan, TNGP, Cibodas. 20 menit dari sini Nae mulai mengeluhkan pinggangnya yang sakit.
***
Kami mulai pendakian pukul 11.00. Jujur saja aku agak gugup pada awalnya. Mungkin karena sudah 1 tahun lebih tidak mendaki gunung dan kondisi badan sedang tidak enak. Ditambah lagi berbagai masalah yang sedang aku hadapi. Biarlah, aku pikir ini konsekuensi ketika seorang manusia sedang mengenali kehidupan. Aku pun memilih "kembali ke alam" ketimbang "pelarian" lainnya.
Butuh waktu sekitar 1 jam untuk mencapai Pos 1, Telaga Biru (1575 Mdpl). Aku meminta Afwan yang ketika itu berada di depan barisan untuk beristirahat sejenak. Pasalnya anak-anak juga sudah terlihat lelah.
"Lo cuci muka dulu, lah. Tapi jangan diminum airnya!"
"Itu, telaga biru ada di sebelah kanan."
"Kok telaganya ndak biru, cak?" Mas Latief menyahut.
"Walah, aku juga ndak tahu persis, Mas."
"Kalau sudah selesai, ayo kita jalan lagi."
"Gak jauh dari sini ada jembatan dan Pos 2. Kita istirahat disana," tambahku.
Kami tidak lama beristirahat di Pos 1. Pikirku tidak jauh dari sana ada sebuah jembatan panjang yang bisa dijadikan tempat istirahat dan memiliki panorama yang lebih indah dibanding Telaga Biru. Dulu sebelum ada jembatan, keadaan tanah antara Pos 1 dan 2 sangat becek. Mengingat jalur itu merupakan aliran air dan rawa.
Kami sempat berjumpa dengan teman-teman dari organisasi penggiat alam asal Jakarta di Pos 2, Panyangcangan Kuda. Aku sempat berbincang dengan ketuanya. Dalam pembicaraannya, ia mengatakan sedang menunggu teman-temannya yang sedang dalam perjalanan turun dari Puncak Gunung Pangrango. Ia tidak melanjutkan perjalanan mengingat akan menyematkan syal organisasinya di Air Terjun Cibereum.
Setelah berbincang aku dan Aldo memutuskan untuk membakar 1 batang rokok sekaligus mencicipi makanan ringan yang Mas Latief bawa. Sementara Pencot, Nae, Ipul, dan Afwan memilih untuk melihat air terjun Cibeureum yang tidak jauh dari Pos 2. 3 SERANGKAI. Ipul, Nae, dan Afwan berpose dengan latar air terjun Cibeureum.
Ada kejadian lucu ketika kami bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Ipul yang selama ini cenderung pendiam dan terlihat "dewasa" tiba-tiba cengos dan mengambil sebuah kacamata hitam yang berada di samping carrierku. Pikirnya itu kacamata yang Pencot bawa untuk sekedar bergaya di puncak. Belum sempat memakai, wajah Ipul memerah taatkala empunya kacamata menegur Ipul.
"Bang.. Bang... Itu kacamata saya!"
"Oh... Maaf, saya pikir ini punya teman saya," jawab Ipul.
Kami pun tertawa terbahak-bahak melihat kejadian itu. Dengan muka merah Ipul menaruh kacamata tersebut dan mengajak aku dan teman-teman untuk segera meninggalkan Pos 2. Dia malu betul sepertinya.
Kami memutuskan perjalanan. Aku sadar betul bahwa jalur Pos 2 ke Pos 3 cukup melelahkan. Aku meminta Nae, yang terlihat sering kelelahan untuk berada di barisan depan. Dalam pengalamanku setiap melakukan pendakian, posisi ikut mempengaruhi psikologis (semangat) pendaki.
"Lo ke depan aja, Nae. Lo yang pimpin kita sekarang."
"Jalurnya kelihatan kok. Jadi lo gak perlu takut," cetusku.
Betul saja, setelah Nae berada di depan irama langkah kami lebih stabil. Namun sesekali aku minta berhenti untuk menarik nafas panjang dan merebahkan carrier yang aku bawa. Ketika itu punggung dan bahu ini terasa pegal sekali. Jujur saja perjalanan menuju Pos 3 sangat meguras tenaga dan mentalku.
Pos 3 sendiri dikenal dengan nama Hot Spring. Aku rasa 100 meter menuju Pos 3 merupakan titik paling bahaya dari Jalur Cibodas. Pasalnya pendaki akan melalui tebing dengan aliran air panas. Jika tidak berhati-hati ia bisa saja tewas terjatuh karena di sisi kanan jalur terdapat jurang sedalam ratusan meter. Demi keamanan disisinya dipasangi tambang besi sebagai pegangan. Sebelum masuk ke Pos 3 aku memutuskan agar kami beristirahat.
Aku sempat bercerita bahwa kecelakaan yang sering terjadi di Gunung Gede, terdapat pada jalur ini. Aku meminta teman-teman untuk berhati-hati. Terutama Nae dan Ipul yang baru pertama mendaki gunung.
Sekitar 10 menit kami berkutat dengan dinding licin ditambah panasnya air yang mengandung belerang. Rasa lega pun dirasa seketika kami mencapai sebuah bangunan batu berdiri tegak di ujung jalur. Aku mengajak diskusi teman-teman dan Mas Latief yang pikirku bisa memberikan pertimbangan matang tentang keadaan kami. Aku mengusulkan agar perjalanan ditunda hingga esok pagi. Mengingat stamina dan cuaca yang ketika itu hujan tidak memungkinkan kami untuk melanjutkan perjalanan.
Kami pun setuju untuk bermalam di pos 3. (Bersambung).
Hari ini (1/11) adik terakhirku, Nico berulang tahun. Sekarang umurnya menginjak 8 tahun. Aku bangga memiliki adik seperti dia dan Dirga. Mereka anak yang cerdas dan berani.
Nico lahir pada 1 November 2002, silam. Ketika Nico lahir, bapak sedang berada dalam perjalanan pulang dari Solo ke Jakarta. Sementara itu, ibu hanya ditemani temannya di rumah bersalin.
Awalnya, aku agak sedikit malu dan canggung ketika ibu mengabari kalau dirinya hamil. Pasalnya aku akan memiliki adik yang umurnya terpaut jauh 15 tahun. Namun, rasa itu menghilang ketika aku melihat tubuh mungil Nico lahir. Ia lucu, menggemaskan, dan tampan. Bapak sendiri sangat senang dan lega seketika mengetahui anak ke-3 nya lahir.
Aku sempat menanyakan nama yang akan diberikan pada bayi mungil itu kepada ibu. Beliau lantas menjawab, Nicolas Duarte.
Aku sempat terkaget mendengar nama yang dipilih ibu. Mungkin nama itu sangat awam bagi telinga orang Indonesia, termasuk aku. Beliau kemudian menjelaskan alasan ia memilih nama tersebut.
"Nicolas itu aku ambil dari dari Nicholas Tsar II. Sementara Duarte itu nama asli Evita Veron, yakni Evita Duarte," jelas ibu.
Blarrr...
Aku sangat kaget mendengar penjelasan ibu. Beliau memang memiliki pengetahuan yang luas karena sering membaca banyak buku. Namun tidak menyangka bahwa akan menamai anaknya dari penggalan nama pemimpin-pemimpin dunia terkenal, Nicholas Tsar II (Rusia) dan Evita "Duarte" Veron (Argentina).
Di dalam doaku, aku selalu berharap agar Allah menjadikan Nico anak yang baik, berani, cerdas, dan mampu membanggakan orangtua. Aku teringat pesan ibu sewaktu kami mengadakan "refleksi" pada malam takbiran kemarin.
Beliau berpesan bahwa dirinya lebih bangga memiliki anak yang memiliki keteladan macam Alm. Munir. Seorang aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) yang memiliki keberanian, kejujuran, dan mampu membantu orang-orang yang tertindas.
"Manusia itu hidup harus saling membantu. Jangan pernah menyerah walaupun keadaannya tidak memungkinkan," terang ibu.
Perayaan ulang tahun Fikom Unpad kali ini memiliki banyak arti. Ada yang memaknainya sebagai waktu bermuhasabah (evaluasi diri), nostalgia, dan berbagi ceria. Ada pula yang mengartikannya sebagai “momen” untuk kenaikan gaji.
***
Ketika itu giliran alumni Fikom Unpad angkatan 1984 untuk unjuk gigi ke atas panggung. Tanpa ragu, belasan dari mereka menyanyikan lagu “Kugadaikan Cintaku” karya Gombloh. Lagu “Kugadaikan Cintaku” memang populer tahun 1980-an. Saya tak menyangka lagu ini buat heboh penonton dan punya kesan mendalam. Sampai-sampai mereka menyebutnya sebagai “lagu kebangsaan” angkatannya.
Di radio, aku dengar lagu kesayanganmu. Ku telepon, ke rumahmu. Sedang apa sayangku? Kuharap engkau mendengar dan kukatakan rindu.
Kehebohan “Reuni Akbar Fikom Unpad” (9/10) mulai terasa ketika 4 penerjun landing pada pagi harinya. Dengan membawa bendera Fikom, mereka menarik minat pengunjung yang sebagian besar merupakan alumni. Sementara itu, acara diawali dengan gerak jalan yang pesertanya berasal dari kalangan alumni, pegawai, dan mahasiswa. “Kami sengaja menampilkan sesuatu yang berbeda pada perayaan ulang tahun Fikom tahun ini. Semoga saja di ulang tahun emas ini, kita dapat bermuhasabah dan terus menjalin silaturahim dari setiap elemen yang ada di Fikom,” ungkap Hadi Suprapto, ketua pelaksana rangkaian acara dies natalis Fikom Unpad ke-50.
Dari data yang tercatat, lebih dari 800 orang hadir dalam perayaan yang menghabiskan dana 27 juta rupiah tersebut. Kebanyakan dari mereka merupakan alumni yang dahulu sempat berkuliah di kampus Bandung sebelum Fikom pindah dan memiliki gedung sendiri di Jatinangor tahun 1993. Seperti halnya Bob, alumni jurusan Jurnalistik angkatan 1984 yang merupakan Ketua Himpunan Mahasiswa Jurnalistik pertama. Ia mengungkapkan bahwa sudah sejak lama menantikan momen macam ini. Pria bertubuh tambun dan memiliki ciri khas dengan topi pad ini sengaja meluangkan waktu ditengah-tengah kesibukkannya sebagai dosen tetap di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Udara.
“Saya sengaja datang dari Yogja untuk bernostalgia dengan teman-teman lama. Saya juga membawa jaket jurnal pertama yang dikira sudah hilang selama ini. Siapa tahu saja bisa dimuseumkan dan jadi kenang-kenangan,” terangnya.
Menambahkan keterangan Bob, Ganjar Nugraha alumni angkatan 1978 yang juga merupakan ketua Ikatan Keluarga Alumni Fikom Unpad periode ini menceritakan tentang segudang pengalamannya ketika ia berkuliah. Dahulu Ganjar dikenal sebagai mahasiswa yang memiliki banyak kesibukkan. Ia juga aktif diberbagai kegiatan mahasiswa dan sempat “memperkuat” tim Persib ketika jamannya.
Ia memiliki kenangan manis ketika seorang dosen memintanya untuk berhenti sejenak dari kegiatan di luar kampus. Dosen itu mengharapkan Ganjar agar fokus dan menyelesaikan kuliahnya terlebih dahulu. Mengingat semasa berkuliah, ia dikenal sebagai mahasiswa yang pintar dan kritis. Sangat sayang jika tersendat karena disibukkan oleh sederet jadwal latihan dan pertandingan Persib.
“Saat itu kaki saya patah. Bu Betti menjenguk dan menasehati saya agar terus berkuliah. Saya terharu jika mengingat kejadian itu,” tutur Ganjar yang juga merupakan adik kandung dari Rektor Unpad ini.
Pada kesempatan itu, ia juga berpesan kepada seluruh alumni agar tetap melanjutkan esensi dari acara ini. Mengingat banyak potensi yang masih terpendam dari Fikom untuk terus digali. Tidak lain adalah rencana menjadikan Fikom Unpad sebagai fakultas bertaraf internasional dan terbaik se-Indonesia. Menurutnya harus ada kelanjutan dari acara untuk mencapai target itu. “Saya pikir alumni harus membantu Fikom untuk menggapai cita-citanya. Mungkin bantuan itu merupakan balas jasa setelah apa yang mereka dapatkan ketika kuliah dahulu,” tambahnya.
Rasanya momen kali ini dapat dijadikan sarana introspeksi dan “obat rindu” untuk mereka yang pernah memiliki kenangan manis atau pahit. Sementara itu dipojok ruangan gedung 5, terlihat 6 orang sedang duduk dan mencoba bersantai. Mungkin dalam angannya, mereka berharap akan ada “perubahan” setelah acara ini.
***
Wajah Luki terlihat lesu. 2 sofa cokelat tua yang disandarkannya berbunyi krekk.. krekk... krekk... ketika tubuhnya bergerak. Sudah 2 hari terakhir ia, Erwan, Dadin, Yayan, Oni, dan Yatno tidak tidur. Selain bertugas membersihkan sampah sisa makanan peserta acara “Reuni Akbar Fikom Unpad”, ia juga harus mengangkat dan menyiapkan lebih dari 500 kursi sehari sebelumnya. Belum lagi perlengkapan yang minta disiapkan panitia acara secara mendadak. Meja, panggung, serta beberapa stand makanan.
“Kalau dibilang capek, ya capek. Tapi ya harus bagaimana lagi. Kita hanya orang kecil (suruhan),” ujarnya.
Luki Sudia lahir di Bandung 33 tahun silam. Sudah hampir 10 tahun terakhir, ia bekerja sebagai cleaning service di Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad, Jatinangor. Sebelumnya, Luki bekerja sebagai buruh di pabrik Kimia Farma, Bandung. Baru pada pertengahan Juli 2001 ia mendaftarkan diri ke CV. Jatinangor yang bertindak sebagai penyalur tenaga cleaning service ke Unpad. Ia juga sempat “bebersih” di Fakutas Psikologi dan Gedung Program Terpadu Basic Science (PTBS) yang dikenal dengan “gedung biru” kurang dari 1 bulan.
“Pertama kali kerja di Unpad, saya hanya digaji 50 ribu per bulan. Sekarang paling besar 650 ribu. Kalau mau dihitung, tentu saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan,” terang Luki yang memiliki tubuh gempal dan kulit gelap.
Menjadi seorang cleaning service memberikan banyak pengalaman untuk ayah 2 orang anak ini. Ada yang menyenangkan, banyak pula yang menyedihkan dan membuatnya kesal. Mirisnya hal yang menyedihkan itu hampir tejadi tiap hari. Yakni ketika banyak mahasiswa yang sengaja lewat seenaknya ketika ia mengepel lantai gedung. Tentu saja lantai yang sudah dipelnya harus diulang. Ditambah lagi kebiasaan buruk mahasiswi yang sering membuang pembalut ke kloset. Walhasil ia harus bekerja ekstra keras guna mengambil pembalut itu dan membuangnya.
Cerita yang paling menyebalkan ketika dirinya melihat sepasang mahasiswa di ruang kelas di salah satu gedung. Awalnya Luki mengira mereka sedang mendiskusikan tugas atau membicarakan materi kuliah yang baru saja selesai. Tanpa pikir panjang, ia berlalu dan menuju kamar mandi untuk membersihkan dan mengecek keran air. Sesaat kemudian ia mendengar suara kaca pecah dari ruang yang dilaluinya tadi. Ia bergegas dan mencari tahu kejadian apa yang terjadi. Betapa kagetnya Luki ketika mendapati kaca pintu ruang itu telah pecah berkeping-keping dipukul mahasiswa yang ternyata sedang marah dengan sang pacar. Sementara itu, sepasang mahasiwa tadi sudah tidak ada di ruangan.
“Mahasiswa sekarang dan dulu itu berbeda. Kalau mahasiswa sekarang cenderung acuh dengan kita. Mereka sering seenaknya!”
Kisah menyedihkan seperti itu tidak hanya dirasakan Luki. Melainkan oleh beberapa orang yang bertugas sebagai cleaning service atau pekerja kasar lainnya di Unpad. Gaji kecil, pembayaran uang lembur yang telat, dan kurangnya koordinasi antara pegawai merupakan hal biasa yang harus mereka rasakan.
“Kalaupun boleh berharap, saya minta kenaikan gaji. Semoga saja rencana Fikom yang ingin menargetkan taraf internasional (World Class University) ikut juga menaikkan taraf hidup kita sebagai pekerja, “ ujar Luki.
Luki kembali pada posisi bersandar ketika awal saya menemui dan meminta izin untuk mewawancarainya. Saya tidak tahu apa yang dirasa dan ia pikirkan setelah itu. Entah itu tentang kenaikan gaji atau hanya mengumpulkan tenaga karena harus bekerja keras lagi setelah acara usai.
George Samuel Windsor Earl (1813) adalah sosiolog kelahiran Inggris. Ia merupakan orang pertama yang menggunakan istilah “Indu-Nesians” untuk menjabarkan cabang ras Polinesia di daratan Madagaskar hingga Formosa. Earl menulisnya dalam artikel berjudul Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia tahun 1850. Namun, terminologi ini ia buang lantaran dianggap terlalu umum dan menggantinya dengan Melayunesians. Malayunesians sendiri berasal dari bahasa Tamil atau Dravidia, Malaya, yang berarti gunung.
Pendapat lain datang dari James Richardson Logan. Logan merupakan kolega Earl yang lahir di Berwickshire, Skotlandia, pada 10 April 1819. Berbeda dengan Earl, Logan memutuskan untuk tetap menggunakan terminologi Indonesia. Pikirnya Indonesia merupakan istilah yang tepat untuk menjabarkan wilayah jajahan Belanda dari segi geografis ketimbang etnografis.
"I prefer the purely geographical term Indonesia, which is merely a shorter synonym for the Indian islands or the Indian Archipelago. We thus get Indonesian for Indian Archipelagian or Archipelagic, and Indonesians for Indian Archipelagians or Indian Islanders". (Robert R. Elson, 2008).
Sebelumnya, banyak sebutan untuk mewakili daerah jajahan belanda ini. The Eastern Seas, The Eastern Islands, Indian Archipelago, Hindia Timur, dan Insulinde oleh Eduard Douwes Dekker. Baru pada 17 Agustus 1945, terciptalah sebuah negara bernama Indonesia.
Delapan tahun sudah perempuan ini “bercengkrama” di tengah rimba Bukit 12, Jambi. Dengan fasilitas dan sarana yang minim, ia pun berikar: “Aku ingin Orang Rimba pintar!"
Saur Marlina Manurung lahir di Jakarta pada 21 Februari 1972. Ia merupakan anak sulung dari 5 bersaudara. Di keluarga, Butet, panggilan akrab Saur memang agak berbeda dibandingkan saudara-saudaranya. Hal ini terlihat jelas pada hobinya yang tak lazim bagi kaum hawa, mountaineering.
Kecintaan Butet pada kegiatan yang penuh adrenalin ini, bermula ketika ia menjadi anggota mahasiswa pecinta alam di Univesitas Padjadjaran, Palawa. Dari sinilah ia sering “jalan-jalan” dan akhirnya menetap selama delapan tahun di Bukit 12, Provinsi Jambi. Bukit 12 sendiri merupakan Taman Nasional yang terdapat di daerah Jambi. Di bukit ini terdapat suku asli Jambi, Suku Anak Dalam.
Menurut Butet, di Bukit 12 ia dapat merasakan kedamaian yang tak ia temui di daerah lainnya. Oleh karena itu dia sangat mencintai alam dan kebudayaan aslinya. “Alamnya indah, orang-orangnya pun sangat polos,” ujar lulusan jurusan Bahasa Indonesia dan Antropologi Universitas Padjadjaran.
“Jalan-jalan” Butet ke Kawasan Taman Nasional ini, bermula ketika tahun 1998. Kala itu terkesan akan pola hidup Orang Rimba, sebutan Suku Anak Dalam yang harmonis. Tak pelak, ia ingin menetap dan menjadi bagian dari mereka.
“Pola pikir mereka sangatlah sederhana, namun memiliki arti yang penting untuk alamnya,” tambah Butet.
Di awal kedatangannya, Butet sempat dikucilkan dan diusir dari Bukit 12. Oleh karena niat yang tulus dan tak patah asa, akhirnya Butet dapat diterima dengan baik oleh Orang Rimba.
“Awalnya justru ngeri. Aku bahkan pernah ingin disantet oleh mereka,” cerita Butet sambil tertawa.
Setelah berapa lama tinggal disana, Butet akhirnya mengenal cara hidup mereka, mulai dari cara bersosialisasi, upacara adat, hingga mencari makan. Namun ada yang terasa kurang di kehidupan mereka ungkap Butet yakni pendidikan.
“Saya miris sekali ketika mereka tidak bisa menulis dan membaca. Tanpa pendidikan, mereka dapat dibodohi oleh pihak-pihak yang tak bertanggung jawab,” ujarnya.
Dengan semangat melawan “keterbatasan”, ia akhirnya mendirikan sekolah yang ia namakan Sokola Rimba (sekolah rimba, dalam bahasa Jambi). Awalnya, niat ini sempat ditolak oleh tetua adat Orang Rimba. Mereka berpikir kalau anak-anak bersekolah, hal itu akan menghabiskan waktu saja.
Tanpa kenal putus asa, Butet secara diam-diam mengajak anak Orang Rimba belajar baca tulis. Dari dua orang hingga belasan anak ia ajar. Dengan gigih dan sabar Butet mengajari anak-anak tersebut. Mulai dari mengeja huruf hingga berhitung. “Orang Rimba harus pintar,” kata Butet bersemangat.
Melihat keinginan kerasnya "mendidik" anak Orang Rimba, tetua adat akhirnya setuju dengan niat Butet. Mereka mengijinkan Butet untuk mengajar baca tulis kepada anak-anaknya. Dari sinilah Butet terinsipirasi untuk membuat sebuah buku yang ia namai Sokola. Diharapkan dengan adanya buku ini pemerintah dan masyarakat sadar akan pentingnya sebuah kebudayaan.
“Kebudayaan itu identitas bangsa. Bukan Indonesia jika tak ada kebudayaan,” terang perempuan yang mendapat gelar Man and Biosfer dari Lembaga Ilmu Pengetahuan.
Senin pagi, tanggal 10 Januari 1966. Ratusan mahasiswa yang menamakan diri Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia (DMUI) melakukan demonstrasi besar di depan kampus UI Salemba. Aksi mereka dilatarbelakangi adanya kebijakan Soekarno yang dirasa gagal dalam memecahkan masalah ekonomi, sosial, dan politik ketika itu. Tuntutan mereka diteriakan dengan keras dan jelas.
Isinya mengenai penurunan harga, perombakan kabinet, dan pembubaran PKI. Mereka menyebutnya dengan TRITURA, atau tiga tuntutan rakyat. Sebuah respon mahasiswa akan makin melambungnya harga-harga, ketidakberesan kabinet yang diduga korupsi, hingga keterlibatan PKI dalam penentuan arah kebijakan politik dan ekonomi Soekarno.
Dialah Herman Onesimus Lantang. Salah satu dalang demonstrasi yang juga sebagai Ketua Senat mahasiswa UI kala itu. Saya sempat mengobrol dengan Herman O. Lantang di rumahnya yang rindang, dipinggir Jakarta. Tepatnya Minggu sore (26/10), di Jl. Joe no 13, Jagakarsa. Bertanya tentang pergerakannya di tahun 1966, Soe Hok Gie, dan semangatnya yang tidak luntur walaupun usianya kini mencapai 68 tahun.
Berikut petikannya:
Bang Herman, bisa cerita sedikit mengenai keadaan sosial, politik, dan ekonomi di era kepemimpinan Soekarno tahun 1966?
Loe harus tahu Diemas. Ketika itu keadaan Indonesia terlalu terpuruk. Jauh dari keadaan sejahtera atau yang loe rasain kayak sekarang. Coba loe pikir, saking ga ada beras dan selagi ada, harganya mahal, masyarakat harus makan bulgur biar ga mati. Loe tau bulgur?
Kalau kondisi sosial politiknya sendiri seperti apa Bang?
Soekarno ketika itu punya gerakan politik dan ekonomi (Gerlpolek) yang dijalankan untuk mengatasi krisis. Tapi karena Menteri-Mentrinya pada begok dan korupsi, Gerpolek tidak berjalan. Coba loe tanya Yopi Lasso. Rasanya dia paham betul dengan hal ini. Maklum, yang lain udah pada “lewat” (meninggal) termasuk Gie (Soe Hok Gie).
Lantas Apa sikap dan tindakan yang diambil Abang dan mahasiswa lainnya melihat kondisi seperti itu?
Jumat tanggal 7 Januari 1966, Gie mengumpulkan kita semua (Mahasiswa Fakultas Sastra Indonesia) di Kampus Salemba. Tepatnya di ruang senat mahasiswa sastra. Secara spontan Gie mengajak mahasiswa Sastra UI untuk menyuarakan dan mengkritisi hal ini. Dia juga ngajak gue yang ketika itu sebagai ketua senat mahasiswa dan punya banyak massa. Tanggal 10 januari 1966 kita turun ke jalan. Dari sinilah demonstrasi demi demonstrasi terus didengungkan mahasiswa dan rakyat demi menuntut kesejahteraan. Dan ini hari yang penting bagi perubahan keadaan ketika itu.
Apakah kondisi tadi menjadi alasan mahasiswa berdemonstrasi dan mengumumkan TRITURA?
Kita merasa Soekarno telah gagal menjalankan kebijakan-kebijakannya sebagai seorang pemimpin. Belum lagi adanya pengaruh besar dari PKI (Partai Komunis Indonesia) dalam pemerintahan. Sebab itu kita berdemonstrasi untuk mengumumkan TRITURA (Tiga Tuntutan Rakyat).
Mayjen dr. Syarief Thayeb yang ketika itu menjabat sebagai Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pendidikan ditengarai berada dibalik Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMMI). Apakah ada maksud “tertentu” dari ABRI? Kudeta terhadap pemerintahan Soekarno, begitu?
Syarief Thayeb memang sempat mengumpulkan banyak organisasi mahasiswa ketika itu. Ada Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Mahasiswa Pancasila (Mapancas), Ikatan Pers Mahasiswa (IPMI), dan banyak lagi. Ketika itu gue berada di Dewan Mahasiswa UI (DMUI) dan memutuskan untuk tidak bergabung! Bukan karena kita arogan atau apa, melainkan kita punya ideologi sendiri dan malas dimanfaatkan pihak-pihak yang punya kepentingan disana (ABRI). Gie, Aristides (Kattopo), Idhan Lubis, dan teman-teman lainnya juga kurang setuju jika kita bergabung di KAMMI.
Memang seperti apa hubungan antara Soekarno, ABRI, dan PKI ketika itu?
Gue gak tau jelas soal kemelut antara ABRI dan PKI saat itu. Yang gue inget hanya mereka (ABRI dan PKI) mencoba merebut hati Soekarno untuk berada dijajaran pemerintahan. Sayang, Gie udah ga ada. Dia hafal banget mengenai permasalahan ini. Coba loe baca bukunya, Diemas. Syukur-syukur ada.
Lantas bagaimana sikap Soekarno melihat aksi mahasiswa, Menteri kabinetnya, PKI dan ABRI?
Gue rasa Soekarno bingung dengan tuntutan demi tuntutan yang dilayangkan mahasiswa dan rakyat ketika itu. Ditambah lagi adanya “kemelut” antara ABRI dan PKI. Soebandrio saja kalang kabut dan mencak-mencak ketika aksi gue dan teman-teman tambah besar.
Apakah Soekarno atau PKI melancarkan intervensi dan intimidasi terhadap gerakan mahasiswa? Apa saja?
Kok loe tau sih? Hahahaha (Bang Herman tertawa). Gue sering pukul-pukulan dengan aparat waktu demonstrasi. Belum lagi surat kaleng yang ditimpuk selagi rapat di kampus. Tapi dasar orangnya keras, kita maju terus. Buat kita, kepentingan rakyat lebih penting ketimbang ancaman-ancaman macam itu. Loe pasti udah nonton film Gie. Disana ada adegan dimana rumah Gie dilemparin batu dan surat kaleng.
Bagaimana dengan sikap Concentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) yang di backup PKI melihat teman-temannya menuntut penggulingan Soekarno dan pembubaran PKI?
Jangan ditanya Diemas. Sudah pasti kita juga sering bentrok dengan CGMI. Mereka merasa kebijakan-kebijakan PKI-lah yang relevan ketika itu. Padahal kita tahu, PKI berada dibalik Soekarno dalam menetukan kebijakan. Dan semua kebijakan itu bisanya hanya menyengsarakan rakyat. Gak mikir soal kepentingan rakyat. Salah besar kalau kebijakan itu dirasa benar.
Nyesel Gak Bang kejatuhan Soekarno malah memunculkan figur pemimpin yang lebih diktator kayak Soeharto?
Yopi Lasso sempat bilang ke guekayak gini, “Edan man, tau gitu gak akan kita turunin deh Soekarno.” Gue langsung jawab, “Kita udah berusaha semaksimal mungkin, yop. Dan yang amat disayangkan lagi, sewaktu kita tahu Soeharto bobrok, kita tidak dekat dengan Jakarta. Gue di Irian (Papua), Gie di Amerika, dan yang lain gak tau kemana. Hilang kontak. Tau gitu jangan dia deh.” Loe tau kan maksud gue?
“Tahu Bang,” Jawab Saya sambil tersenyum. Oiya Bang, Selain ABRI ada juga mahasiswa yang “memanfaatkan” kondisi ketika itu. Ditengarai Akbar Tanjung, Sofwan Wanandi, dll ikut bertanggung jawab atas naiknya Soeharto. Bagaimana menurut Bang Herman?
Wah, pertanyaannya berat juga. Hahahahaha…Gue cuma bisa bilang gini Diemas. Di setiap pergerakan yang bertujuan perubahan, gak bisa dipungkiri terdapat pihak-pihak yang memiliki kepentingan dan ingin memanfaatkannya. Contohnya kita. Kepentingan kita berada di pihak masyarakat banyak yang menginginkan harga sembako murah, akses pendidikan yang mudah, dan keamanan. Sedangkan orang-orang semacam itu bisa dilihat kepentingannya berada dimana? Gie sendiri sudah kasak-kusuk dan gerah melihat hal ini.
“Halus tapi menohok Bang,” jawab saya. Lantas apakah ada konspirasi dan janji politik di dalamnya? Mengingat Akbar dan Sofyan hidup enak di era Soeharto?
Loe bisa lihat sendiri kan sekarang keadaannya gimana? Dan udah jadi tugas loe kalau mereka “macam-macam”.
Tidak tertarik berpolitik seperti mereka Bang?
Gue kurang suka dan sesuai dengan kehidupan politik. Terlalu membual. Sementara ada banyak hal yang harus dipecahkan tidak lewat kebongongan dan lobi-lobi ga mutu, melainkan dengan kejujuran dan hati nurani. Rasanya guegak bisa masuk dalam dunia kayak gitu, Diemas. Mungkin kehidupan seperti inilah (dekat dengan alam) yang membuat gue nyaman dan tenang.
Oiya, kita udah panjang lebar bicara soal keadaan ’66. Tapi sedari tadi Bang Herman belum cerita bagaiamana menjadi seorang ketua senat UI. Bisa cerita sedikit Bang?
Gue kepilih jadi ketua senat di akhir tahun 1964. Ketika itu memang anak-anak ngeliatgue orang yang keras dan kesannya main pukul. Sempat sewaktu rapat gue pukul meja untuk menenangkan. Tapi dari sana mereka sadar bahwa dengan omongan gu ituternyata bisa menyadarkan dan buat nangis mereka ketika tahu maksud dan artinya. Sama halnya ketika gue jadi panitia di Mapram (Ospek) dan Mapala UI. Abis gue omelin, eh mereka malah nangis terharu. Sama satu rahasia lagi Diemas. Jangan punya cewek (pacar) ketika loe jadi ketua. Biar loe bisa disukain banyak cewek karena wibawa loe. Hehehehe…
Banyak pacar dong Bang sewaktu jadi mahasiswa?
Pacar sih gak ada, tapi yang suka sama gue banyak. Hehehehe…
Bisa aja nih Abang, huaahahaha. Melihat kondisi mahasiswa saat ini, apa kesan dan penilaian Bang Herman?
Banyak ketidakjujuran yang dilakukan mahasiswa sekarang ketika mereka teriak-teriak di depan MPR atau Istana Negara. Mereka membela rakyat memang, tapi dibelakangnya terdapat kepentingan banyak pihak yang mem-backing-nya. Sama satu lagi, dulu kita bergerak atas dasar hati nurani dan spontanitas. Beda ketika melihat mahasiswa sekarang berdemo. Mereka kebanyakan bergerak karena ada dorongan dari orang-orang yang gak bertanggung jawab. Jujur, gue sedih dengan keadaan seperti ini.
Budiman Sudjatmiko, Mahasiswa yang paling diincar di tahun 1998 (era Soeharto) sekarang berada di kubu Megawati. Apa penilaian Abang?
Mereka itu sama halnya dengan orang-orang yang mencoba memanfaatkan keadaan saat gue dulu berjuang di tahun ’66. Gue, Gie, Aristides, Idhan, Yopi, dll tentunya akan merasa sedih ketika mendapati di jaman sekarang masih ada aja orang macam itu. Jangan sampai seperti itu Diemas. Bilang teman-teman loe!
Lalu apa pesan Bang Herman untuk mahasiswa sekarang?
Ketika loe melihat ketidakjujuran sudah mulai berjangkit dimana-mana. Sudah selayaknya anak muda untuk bergerak. Tapi satu catatan yang harus diingat. Pakai hati nurani. Kembangkan gerakan loe atas dasar cinta, komitmen, dan konsistensi untuk merubahnya menjadi lebih baik. Jangan lupa juga untuk menjaga alamnya. Percuma sistem berhasil tapi kondisi lingkungannya parah. Gue harap manusia muda Indonesia bisa membawa bangsa ke keadaan yang lebih sejahtera dan beradab.
"... Suara-suara itu tak bisa dipenjarakan. Disana bersemayam kemerdekaan. Apabila engkau memaksa diam, aku siapkan untukmu: pemberontakan!". "Thukul hilang dalam perjuangan. Saya bangga bisa menjadi bagian dari hidupnya."
Air mata Mbok Sipon sesekali menetes. Selendang merah jambu yang ia sematkan dileher, diusapnya ke wajah. Jauh di kesadarannya, pemilik nama asli Dyah Sujirah cukup puas. Wiji Thukul telah mampu menjadi contoh yang baik dan berani. Bukan hanya untuk Fitri Nganti dan Fajar Merah anaknya, tetapi juga bangsa yang sedang sekarat.
"Aku terakhir ketemu mas Thukul di Jogja. Waktu itu kami ajak Fajar dan Wani jalan-jalan ke Kebun Binatang Gembiraloka. Setelahnya aku tidak bertemu lagi. Kabar terakhir ia sempat terlihat di Depok, " ujar Sipon.
12 Mei 2007. Sebuah spanduk pengumuman berukuran 1x4 meter terpampang di depan Kampus Fisip, Unpad, Jatinangor. Kali ini teman-teman Komunitas Jumat Malam punya hajat kecil tapi berarti. Dengan tema "Merekam Ketidakadilan melalui Seni", aku sempat mengingat kembali sosok Wiji Thukul. Seorang guru yang kini tinggal di Amerika Serikat sempat menceritakan tentang perjuangan Thukul sewaktu aku di SMA.
"Puisinya sangat berani dan keras. Tak heran jika penguasa menghilangkannya."
Wiji Thukul lahir pada 26 Agustus 1963 di Sorogenen, Solo, Jawa Tengah. Semasa kasatnya, ia dikenal sebagai penyair, aktivis, dan seniman Kelompok Teater Jagat Aktivis. Dia juga sering terlihat dalam aksi-aksi yang dilakukan bersama Partai Rakyat Demokratik pimpinan Budiman Sudjatmiko. Ada waktu dimana Thukul membacakan puisi dalam sebuah aksi untuk buruh.
Sontak aksi ini menimbulkan reaksi keras dari pemerintah. Soeharto berasa kebakaran jenggot. Tak pelak PRD dan sejumlah organisasi macam Jaringan Kebudayaan Rakyat (Jangker), Aliansi Jurnalis Independen (AJI), dan lainnya ikut masuk dalam daftar terlarang. Tepatnya 28 Desember 1997, Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan waktu itu, Soesilo Soedarman menginstruksikan penangkapan. (Kompas, 12 Desember 2002).
***
Teater Cassanova. Siang itu mereka tampil membacakan puisi karya Thukul yang sangat fenomenal. Dengan gaya teaterikal yang apik, Cassanova mengajak pengunjung untuk terhanyut dalam perjuangan Thukul. Aku bukan artis pembuat berita. Tapi aku memang selalu kabar buruk buat penguasa.(Aku Masih Utuh dan Kata-Kata Belum Binasa)
Suatu saat kami akan tumbuh bersama. Dengan keyakinan: engkau harus hancur! Dalam keyakinan kami. Di manapun – tirani harus tumbang!(Bunga dan Tembok)
Apabila usul ditolak tanpa ditimbang. Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan. Dituduh subversif dan mengganggu keamanan. Maka hanya ada satu kata: lawan! (Peringatan)
Aku terenyuh ketika mendengar puisi berjudul Peringatan dibacakan. Buatku puisi ini sangat menggambarkan situasi dan kegundahan hati Thukul kala itu. Di akhir acara Mbok Sipon mengutarakan harapan besar mengenai keberadaan Thukul, suaminya. Walaupun kecil kemungkinan "sang Peluru" kembali hadir dalam kehangatan keluarga.
"Mudah-mudahan Mas Thukul tidak lagi menemuiku hanya lewat mimpi. Melainkan bisa pulang dan bercanda lagi di rumah bersama anak-anak."
Delapan tahun sudah perempuan ini “bercengkrama” di tengah rimba Bukit 12, Jambi. Dengan fasilitas dan sarana yang minim, ia pun berikar: “aku ingin Orang Rimba pintar”.
*
Saur Marlina Manurung lahir di Jakarta pada 21 Februari 1972. Ia merupakan anak sulung dari 5 bersaudara. Di keluarga, Butet, panggilan akrab Saur memang agak berbeda dibandingkan saudara-saudaranya. Hal ini terlihat jelas pada hobinya yang tak lazim bagi kaum hawa, mountaineering (naik gunung). Kecintaan Butet pada kegiatan yang penuh adrenalin ini, bermula ketika ia menjadi anggota mahasiswa pecinta alam di Univesitas Padjadjaran, Palawa. Dari sinilah ia sering “jalan-jalan” dan akhirnya menetap selama delapan tahun di Bukit 12, Provinsi Jambi. Bukit 12 sendiri merupakan Taman Nasional yang terdapat di daerah Jambi. Di bukit ini terdapat suku asli Jambi, Suku Anak Dalam. Menurut Butet, di Bukit 12 ia dapat merasakan kedamaian yang tak ia temui di daerah lainnya. Oleh karena itu dia sangat mencintai alam dan kebudayaan aslinya. “Alamnya indah, orang-orangnya pun sangat polos,” ujar lulusan jurusan Bahasa Indonesia dan Antropologi Universitas Padjadjaran. “Jalan-jalan” Butet ke Kawasan Taman Nasional ini, bermula ketika tahun 1998. Kala itu terkesan akan pola hidup Orang Rimba, sebutan Suku Anak Dalam yang harmonis. Tak pelak, ia ingin menetap dan menjadi bagian dari mereka. Di awal kedatangannya, Butet sempat dikucilkan dan diusir dari Bukit 12. Oleh karena niat yang tulus dan tak patah asa, akhirnya Butet dapat diterima dengan baik oleh Orang Rimba. “Awalnya justru ngeri. Aku bahkan pernah ingin disantet oleh mereka,” cerita Butet sambil tertawa. Setelah berapa lama tinggal disana, Butet akhirnya mengenal cara hidup mereka, mulai dari cara bersosialisasi, upacara adat, hingga mencari makan. Namun ada yang terasa kurang di kehidupan mereka ungkap Butet yakni pendidikan. “Saya miris sekali ketika mereka tidak bisa menulis dan membaca. Tanpa pendidikan, mereka dapat dibodohi oleh pihak-pihak yang tak bertanggung jawab,” ujarnya. Dengan semangat melawan “keterbatasan”, ia akhirnya mendirikan sekolah yang ia namakan Sokola Rimba (sekolah rimba, dalam bahasa Jambi). Awalnya, niat ini sempat ditolak oleh tetua adat Orang Rimba. Mereka berpikir kalau anak-anak bersekolah, hal itu akan menghabiskan waktu saja. Tanpa kenal putus asa, Butet secara diam-diam mengajak anak Orang Rimba belajar baca tulis. Dari dua orang hingga belasan anak ia ajar. Dengan gigih dan sabar Butet mengajari anak-anak tersebut. Mulai dari mengeja huruf hingga berhitung. “Orang Rimba harus pintar,” kata Butet bersemangat. Melihat keinginan kerasnya mengajari anak Orang Rimba, tetua adat akhirnya setuju dengan niat Butet. Mereka mengijinkan Butet untuk mengajar baca tulis kepada anak-anaknya. Dari sinilah Butet terinsipirasi untuk membuat sebuah buku yang ia namai Sokola. Diharapkan dengan adanya buku ini pemerintah dan masyarakat sadar akan pentingnya sebuah kebudayaan. “Kebudayaan itu identitas bangsa. Bukan Indonesia jika tak ada kebudayaan,” terang perempuan yang mendapat gelar Man and Biosfer yang diberikan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.
Sabtu lalu (14/11) Hotel Crowne Plaza, Jakarta punya tiga acara penting. Penyerahan Nabil Award 2008, peluncuran dan bedah buku karya DR. Mary Somers Heidhues, dan The Best Executive Award 2008. Tak lama duduk di sofa empuk lantai tiganya, seorang lelaki memanggil dari dekat pintu balroom. “Sudah lama menunggu ya? Maaf, baru bisa keluar sekarang,” ujar lelaki yang siang itu terlihat elegan menggunakan batik merah dengan hiasan bunga di dada kirinya.
Dialah Asvi Warman Adam. Banyak orang mengenal Asvi Warman Adam sebagai seorang sejarawan yang aktif menulis tentang Soekarno, Gerakan 30 September, hingga Tan Malaka. Tak jarang pula karena tulisannya, Asvi mendapat banyak sms dan telepon bernada ancaman. Bahkan di tahun 2007, kantor kerja Asvi di LIPI didatangi ratusan orang menggunakan sekitar 10 metromini. Mereka berteriak-teriak menggugat Asvi. Intinya tak sepaham dengan tulisan Doktor dari des Hautes Etudes en Science Sociales Paris, Perancis di media massa.
Ada apa dengan tulisan Asvi mengenai Soekarno, Gerakan 30 September 1965, hingga Tan Malaka? Apakah hal ini yang menyebabkan ia dianggap sejarawan “kiri”?
Disela-sela peluncuran dan bedah buku karya DR. Mary Somers Heidhues, Asvi Warman Adam memaparkan mulai dari alasan tulisannya, perkara Soeharto, hingga pada usahanya dalam pelurusan sejarah yang selama ini di”bengkok"kan kepada Diemas Kresna Duta, Mahasiswa Jurnalistik, Fikom, Unpad. Berikut kutipannya:
Pak Asvi, bisa cerita sedikit mengenai awal ketertarikan Anda dalam mengupas sejarah Indonesia? Tahun 1984 saya berangkat ke Perancis. Selama 6 tahun saya belajar mengenai hubungan Indonesia dengan Vietnam. Ide ini berawal dari saran professor saya yang mengatakan belum ada orang Indonesia yang ahli akan hal itu. Saya pun menjadikan ide ini sebuah disertasi. Setelah kembali ke Indonesia, saya mulai menulis mengenai sejarah hubungan Indonesia dengan Vietnam, Kamboja, dll. Dari sinilah titik awal saya mulai mengupas mengenai sejarah Indonesia. Anda dikenal luas sebagai sejarawan yang sering mengupas tetang Soekarno, Gerakan 30 September, dan Tan Malaka. Kapan Anda memulainya? Pada tahun 1998 setelah lengsernya Soeharto, saya mulai giat menulis mengenai gerakan tahun 1965. Ketika itu mulai banyak buku baru yang mengupas mengenai Gerakan 30 September 1965. Pada tahun yang sama, saya tergabung dalam Masyarakat Sejarawan Indonesia dan diangkat menjadi ketua bidang pendidikannya. Mulai dari sini saya banyak diundang untuk memberikan ceramah dan menulis mengenai gerakan 30 September.
Bagaimana sikap Anda ketika melihat korban Gerakan 30 September 1965? Mereka membuat saya bersimpati dan terkesan. Terlebih ketika korban yang notabane-nya sudah tua datang menghadiri acara itu dengan berpakaian lusuh. Hati saya terenyuh ketika dengan bersemangat mereka menyanyikan lagu Indonesia Raya. Ditambah lagi ketika usai berceramah mereka memberikan saya uang recehan yang totalnya sekitar Rp 20.000, 00. Bukan nominal yang saya pentingkan, melainkan rasa terima kasih mereka yang membuat saya berpikir bahwa menulis sejarah Gerakan 30 September juga harus dilihat dari perspektif korban. Mengingat selama ini sejarah ditulis oleh mereka yang menang dan berkuasa. Sementara orang yang dibawah dan menjadi korban tidak diperhatikan.
Banyak pihak yang men”cap” Anda sebagai komunis, bagaimana tanggapan Anda? Oh, itu tidak benar. Saya berasal dari keluarga Muhammadiyah di Bukit Tinggi. Suatu daerah yang terkenal memiliki budaya islam yang kuat. Selain itu ada dari kakak saya yang terlibat dalam gerakan PRRI yang anti komunis. Jadi saya bukan dari keluarga komunis, melainkan dari pihak yang netral. Kalaupun mereka menilainya dari tulisan saya, itu merupakan pembelaan dan rasa simpati saya terhadap korban-korban Gerakan 30 September yang sudah lama menderita dan disakiti. Patut diingat, dalam tulisan saya juga tidak membenarkan gerakan yang dilakukan PKI.
Adakah intervensi dan intimidasi? Jelas ada dan sudah terbiasa. Bahkan baru-baru ini saya kembali menerima banyak sms dan telpon yang bernada ancaman atau teror menyoal tulisan saya. Saya juga pernah didemo oleh sebagian masyarakat yang menyangka saya seorang komunis. Tepatnya ketika keluar keputusan Jaksa Agung yang melarang buku-buku tanpa menuliskan G30S PKI tahun 2007. Dengan menggunakan sekitar 10 metromini mereka mendatangi kantor LIPI dan berteriak bahwa darah saya halal karena mendukung komunis. Kebetulan saat itu saya sedang tidak berada di tempat. Saya baru mengetahui didemo ketika ada teman yang menelpon.
Dalam Novel “September” karya Noorca M . Massardi, Anda menyimpulkan nama Tosnio Hunu adalah A.H. Nasution dan Mahya Nida adalah Ahmad Yani. Lantas siapa Theo Rosa yang menurut novel ini merupakan dalang utama? Satu hal yang menarik ketika menghubungkan sejarah Gerakan 30 September dengan karya sastra semacam Novel “September” karya Noorca M. Massardi. Sastra memang cenderung sebuah cerita yang fiksi, namun dalam “September” secara apik Noorca mengungkapkan data-data sejarah yang klop, dengan gaya penulisan tokoh yang terbalik, yang membuatnya fiksi. Dan orang akan menyimpulkan Theo Rosa adalah Soeharto. Tinggal membalikkannya saja. Hahaha…
Sejauh mana Soeharto mem”belok”kan fakta-fakta mengenai sejarah Gerakan 30 September? Ada hal yang lucu ketika Noorca M. Massardi menerbitkan buku berjudul “Dia” beberapa bulan yang lalu. Kebetulan ketika itu hadir Moerdiono. Anak buah Soeharto yang sempat diangkat menjadi Mentri Sekertaris Negara (Mensesneg) era Orde Baru. Saya sempat menerangkan bahwa “Dia” dan “September” merupakan revisi versi Noorca M. Massardi atas buku “Putih” yang diterbitkan era Orba mengenai Gerakan 30 September. Tapi begitu saya turun dari panggung, Moerdiono langsung menyalami saya dan mengatakan, “Tapi versi saya yang lebih benar, loh..” hahaha.. Jelas, versi yang dianggap benar oleh Moerdiono itu keliru. Dan inilah salah satu bentuk pembelokkan fakta-fakta sejarah Gerakan 30 September oleh Soeharto. Belum lagi adanya pelarang beberapa buku seperti “Dibawah Bayang-Bayang PKI” yang diterbitkan ESAI tahun 1995. Perlu diketahui, saat Soeharto berkuasa semua orang dilarang berbeda pendapat dalam pemahaman sejarah. Kita harus seragam dalam mengetahui sejarah walaupun banyak pembelokkan atas kebenarannya. Era reformasi seperti sekarang sudah lebih baik. Sejarah sudah dapat disajikan dalam versi yang beragam.
Anda merupakan anggota Tim Pengkajian Pelanggaran HAM Berat yang dilakukan Soeharto. Bagaimana kelanjutan kasus ini setelah Soeharto meninggal? Amat disayangkan kasus pelanggaran HAM berat Soeharto tidak dilanjuti. Namun kita (Tim) sudah berkesimpulan bahwa Soeharto memiliki indikasi dalam pelanggaran HAM berat. Tapi hal ini masih dalam taraf pengkajian, belum pada tingkat penyelidikan dan penyidikan. Mengacu pada sidang pleno Komnas HAM, akhirnya kasus ini diputuskan untuk tidak dilanjuti lagi. Amat disayangkan memang.
Jadi, apakah wajar ketika beberapa pihak mengultuskan Soeharto sebagai Pahlawan atau Bapak Bangsa? Saya pikir belum layak dan waktunya Soeharto dianggap sebagai Pahlawan atau Bapak Bangsa. Bagaimana bisa orang yang diindikasi melanggar HAM berat dan dituduh melakukan korupsi dianggap orang yang berjasa bagi negara. Kalaupun mau mengangkat Soeharto menjadi pahlawan, diperlukan dulu adanya penuntusan akan kasus-kasus yang menjeratnya. Jika tidak terbukti bersalah, bisa saja Soeharto diangkat menjadi pahlawan.
Cara-cara apa saja yang dilakukan Soeharto dalam mengambil alih kekuasaan Soekarno? Ada strategi yang dijalankan Soeharto dalam mengambil alih kekuasaan Soekarno dan menjatuhkan nama Soekarno. Yang pertama menuduh Soekarno ikut membantu Gerakan 30 September dengan putusan Tap MPRS No. 33 Tahun 1967 dan kudeta merangkak yang hasilnya Soeharto menjadi Presiden. Selain itu, dalam buku-buku pelajaran sejarah Soeharto juga jarang menyinggung keterlibatan Soekarno dalam masanya. Ini merupakan strategi dengan konspirasi tingkat tinggi.
Tahun 2003, Ketua Mahkamah Agung, Bagir Manan sempat mengusulkan adanya rehabilitasi nama Soekarno ke Presiden. Menurut Anda, apa alasan Megawati yang urung menindak lanjuti usul ini? Sangat disayangkan ketika Megawati yang saat itu menjabat sebagai Presiden RI sekaligus putri sulung Bung Karno urung merehabilitasi nama Soekarno. Saya mendengar dari Bang Ali (Ali Sadikin) bahwa ketika ditanyakan hal ini, Mba Mega hanya diam malah Taufik Kemas yang menjawab. “Ya nanti, jika Megawati terpilih lagi.” Ketika itu memang sedang mendekati Pemilu. Tapi pada akhirnya belum ada rehabilitasi nama Soekarno mengingat Megawati tidak terpilih lagi jadi Presiden.
Apa solusi terbaik dalam meluruskan sejarah Indonesia? Saya kira harus ada keleluasan dan kebebasan kepada masyarakat dalam menulis fakta-fakta sejarah. Jangan sampai sejarah itu hanya dalam satu versi saja, yakni dari pemerintah. Dan ini merupakan cara dalam mencerdaskan anak bangsa. Intinya dua, kejujuran dan kebenaran. Lantas apa pesan kepada masyarakat luas sebagai pembelajaran untuk mereka? Rasanya masyarakat sudah tidak bisa dibohongi lagi dengan fakta-fakta yang “bengkok”. Oleh karenanya diperlukan peran aktif masyarakat dalam meluruskan sejarah-sejarah yang ada. Bangsa Indonesia sarat dengan sejarah, namun sudah menjadi tugas kita untuk meluruskan yang sudah dibengkokkan.
Pemilu tahun 2009 sudah dekat, Pak Asvi tidak tertarik menjadi calon legislatif? Oh, tidak-tidak. Ini saja sudah cukup. Hahahaha.